Lewati ke konten utama

Cari tulisan

Tidak ada tulisan yang cocok. Coba kata lain.

Inspirasi

Terkadang Orang Hanya Ingin Didengarkan: Apa Kata Sains tentang Mendengar

Muhammad Fikri Gunawan · · 7 menit baca
Terkadang Orang Hanya Ingin Didengarkan: Apa Kata Sains tentang Mendengar
Foto: cottonbro studio, Lisensi Pexels, via Pexels

Memberi saran itu mudah. Mendengarkan lebih sulit dan sering lebih berharga. Inilah kata riset tentang didengarkan, plus 7 kebiasaan sederhana agar kamu lebih pandai mendengarkan.

Mengapa terkadang orang hanya ingin didengarkan?

Karena merasa dipahami datang sebelum mencari solusi. Saat seseorang bercerita tentang hal yang menyakitkan, ia sering butuh ruang untuk merapikan pikiran dan perasaannya, bukan jawaban instan. Riset tentang mendengarkan berkualitas tinggi (penuh perhatian, empatik, dan tanpa menghakimi) menunjukkan bahwa hal ini menurunkan kecemasan dan sikap defensif si pembicara, serta membantunya berpikir lebih jernih tentang pandangannya sendiri. Jadi langkah pertama terbaik biasanya sederhana: dengarkan, ajukan satu pertanyaan terbuka, dan beri saran hanya jika diminta.

Kita semua pernah berada di kedua sisi. Kamu bilang ke teman bahwa kamu lelah di kantor, lalu dijawab "ya resign saja" atau "sudah coba bikin planner?". Sarannya mungkin masuk akal, tetapi kamu pulang dengan perasaan tidak didengar. Artikel ini menjelaskan mengapa itu terjadi, apa kata psikologi tentang mendengarkan, dan tujuh kebiasaan yang membuatmu menjadi orang yang benar-benar ingin diajak bicara.

Mengapa kita buru-buru memberi saran, bukan mendengarkan?

Biasanya karena kita peduli. Melihat orang yang kita sayangi kesulitan itu tidak nyaman, dan saran terasa seperti cara tercepat untuk membantu. Keheningan juga terasa canggung, jadi kita mengisinya. Masalahnya, saran yang datang terlalu dini bisa membawa pesan: "perasaanmu adalah masalah yang harus cepat diselesaikan." Lawan bicara lalu berhenti bercerita, membela diri, atau hanya menjawab "makasih" dan menyimpan cerita aslinya sendiri.

Saran itu tidak buruk. Yang bermasalah adalah waktunya. Saran paling mengena setelah orang itu didengarkan, dan idealnya setelah ia memintanya.

Apa yang diajarkan Carl Rogers tentang mendengarkan?

Psikolog Carl Rogers, presiden American Psychological Association pada 1947
Carl Rogers, psikolog Amerika dan presiden American Psychological Association tahun 1947. Foto: American Psychological Association, CC0

Carl Rogers (1902-1987) adalah psikolog Amerika yang menjabat presiden American Psychological Association pada 1947. Ia mengembangkan pendekatan terapi berpusat pada pribadi (person-centered) yang bertumpu pada tiga syarat yang ia yakini membantu orang bertumbuh: empati, keaslian, dan penerimaan positif tanpa syarat. Pada 1957 ia bersama Richard Farson menerbitkan karya singkat berjudul "Active Listening", yang ditulis untuk orang awam, bukan terapis. Gagasan intinya: pendengar yang baik berusaha melihat dunia dari sudut pandang pembicara, bukan menggiring pembicara ke sudut pandangnya sendiri.

Apa kata riset tentang didengarkan?

Riset tentang mendengarkan lebih muda daripada gagasan Rogers, tetapi beberapa studi menunjuk ke arah yang sama:

  • Lebih sedikit defensif. Dalam makalah tahun 2017 di Personality and Social Psychology Bulletin, psikolog Guy Itzchakov, Avraham Kluger, dan Dan Castro menjalankan empat eksperimen laboratorium. Pembicara yang didengarkan dengan kualitas tinggi merasa lebih sedikit cemas secara sosial dan memproses informasi dengan lebih sedikit defensif. Mereka lebih sadar akan kontradiksi dalam sikapnya sendiri dan memiliki pandangan yang tidak terlalu ekstrem.
  • Berpikir lebih jernih. Lanjutan penelitian dari kelompok yang sama pada 2018 menemukan bahwa mendengarkan berkualitas tinggi membuat pembicara menggali pengetahuannya tentang suatu topik lebih dalam, sehingga kejelasan sikap meningkat. Pandangan mereka tidak otomatis lebih benar, jadi didengarkan membantumu melihat posisimu sendiri lebih jelas, bukan otomatis menjadi benar.
  • Mendengarkan yang baik itu aktif, bukan diam. Dalam artikel Harvard Business Review 2016, Jack Zenger dan Joseph Folkman menganalisis data 3.492 peserta program pengembangan manajer yang dinilai oleh rekan kerjanya. Pendengar hebat tidak sekadar diam: mereka terlibat, misalnya dengan bertanya, dan merespons dengan cara yang memberi energi kepada pembicara. Para penulis membandingkannya dengan trampolin, bukan spons.

Catatan kehati-hatian: kebanyakan studi ini adalah eksperimen laboratorium atau penilaian terhadap manajer, jadi menunjukkan pola, bukan jaminan. Namun temuan itu sejalan dengan apa yang dijelaskan Rogers hampir tujuh puluh tahun lalu dan dengan yang banyak orang rasakan sehari-hari.

Bagaimana Samaritans menjadikan mendengarkan sebagai penyelamat

Plakat di St Stephen Walbrook, London, yang menyebut Samaritans didirikan oleh Dr Chad Varah pada 2 November 1953
Plakat di St Stephen Walbrook, London, mencatat berdirinya Samaritans pada 1953. Foto: Spudgun67, CC BY-SA 4.0

Pada 2 November 1953, Dr Chad Varah, yang saat itu rektor gereja St Stephen Walbrook di City of London, mendirikan Samaritans, seperti tercatat pada plakat di gereja tersebut. Lembaga amal ini berkembang menjadi layanan mendengarkan bagi orang yang sedang tertekan. Samaritans masih mengajarkan metode sederhana bernama SHUSH kepada publik, yang menurut mereka didasarkan pada keterampilan para relawannya:

  • Show you care (tunjukkan kepedulian): beri perhatian penuh, jaga kontak mata, dan simpan ponselmu.
  • Have patience (bersabar): butuh waktu dan beberapa kali percobaan sebelum seseorang mau terbuka.
  • Use open questions (pakai pertanyaan terbuka): pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan ya atau tidak.
  • Say it back (ulangi kembali): sampaikan ulang yang kamu dengar untuk memastikan kamu paham.
  • Have courage (berani): jangan takut pada keheningan atau topik yang sulit.

Cara mendengarkan dengan baik: 7 kebiasaan yang bisa dimulai hari ini

  1. Beri perhatian penuh. Telungkupkan ponsel, hadapkan tubuhmu ke lawan bicara, dan biarkan percakapan itu menjadi satu-satunya hal yang terjadi.
  2. Biarkan ia selesai bicara. Tahan diri untuk tidak menyelesaikan kalimatnya atau menyela dengan ceritamu sendiri. Jeda sering mengundang bagian yang paling jujur.
  3. Ajukan pertanyaan terbuka. Coba "Bagian mana yang paling berat?" atau "Waktu itu rasanya bagaimana?" daripada pertanyaan yang cukup dijawab ya atau tidak.
  4. Ulangi kembali. "Jadi kamu merasa diabaikan di rapat itu, ya?" Memparafrasekan menunjukkan kamu mengikuti dan memberi kesempatan ia mengoreksi.
  5. Sebutkan perasaannya, lewati solusinya. "Kedengarannya melelahkan" lebih berguna pada tahap ini daripada rencana lima langkah.
  6. Tanya dulu sebelum menasihati. "Kamu mau ide, atau cukup aku dengarkan?" hanya butuh lima detik dan mencegah sebagian besar salah paham.
  7. Nyaman dengan keheningan. Kamu tidak perlu mengisi setiap jeda. Tetap hadir sudah merupakan pesan tersendiri.

Apa yang sebaiknya dikatakan (dan dihindari) saat seseorang hanya ingin didengarkan

Kalimat yang membantu:

  • "Kedengarannya berat sekali."
  • "Ceritakan lebih banyak, aku dengarkan."
  • "Aku di sini, pelan-pelan saja."
  • "Apa yang paling membantu kamu sekarang?"

Kalimat yang biasanya menutup percakapan:

  • "Tenang saja."
  • "Untung tidak lebih parah."
  • "Harusnya kamu..."
  • "Semua orang juga mengalami itu."

Saat mendengarkan saja tidak cukup

Mendengarkan adalah dukungan, bukan pengobatan. Jika seseorang menyebut ingin menyakiti diri, mengalami kekerasan, atau berada dalam bahaya, tanggapi dengan serius: dorong ia menghubungi tenaga profesional kesehatan jiwa atau layanan darurat setempat, dan temani selama ia melakukannya. Panduan pertolongan pertama psikologis untuk petugas lapangan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diterbitkan 2011 bersama War Trauma Foundation dan World Vision International, merangkum pendekatannya dalam tiga langkah: look (lihat), listen (dengarkan), dan link (hubungkan). Mendengarkan adalah langkah tengah, sedangkan langkah terakhir menghubungkan orang dengan bantuan praktis dan layanan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa beberapa orang hanya ingin curhat?

Berbicara dengan suara keras membantu orang merapikan pikiran dan melepas ketegangan. Riset tentang mendengarkan berkualitas tinggi menunjukkan bahwa didengarkan dengan tenang dapat menurunkan kecemasan dan sikap defensif, sehingga lebih mudah berpikir jernih sesudahnya.

Bagaimana tahu apakah seseorang butuh saran atau hanya pendengar?

Tanyakan. "Kamu mau saran, atau aku dengarkan saja?" menghilangkan tebak-tebakan. Jika ia masih menceritakan apa yang terjadi dan perasaannya, biasanya ia belum siap menerima solusi.

Apakah mendengarkan benar-benar membantu kalau aku hampir tidak bicara?

Mendengarkan yang baik bukan berarti diam. Zenger dan Folkman menemukan bahwa pendengar terbaik terlibat, bertanya, dan memantulkan kembali yang mereka dengar. Perhatian plus beberapa respons yang tepat lebih baik daripada diam atau saran yang tidak diminta.

Bagaimana cara meminta orang lain mendengarkanku?

Katakan di awal apa yang kamu butuhkan: "Aku belum butuh solusi, aku cuma butuh kamu dengarkan sepuluh menit." Kebanyakan orang lega mengetahui apa yang diharapkan darinya.

Poin penting

  • Merasa didengar biasanya datang sebelum mencari solusi.
  • Riset mengaitkan mendengarkan berkualitas tinggi dengan kecemasan yang lebih rendah, sikap defensif yang berkurang, dan pikiran yang lebih jernih.
  • Mendengarkan yang baik itu aktif: perhatian, pertanyaan terbuka, dan mengulang kembali.
  • Tanyakan dulu sebelum memberi saran.
  • Mendengarkan bukan pengganti bantuan profesional saat seseorang berisiko.

Sumber dan bacaan lanjutan

  • Itzchakov, G., Kluger, A. N., dan Castro, D. R. (2017). I Am Aware of My Inconsistencies but Can Tolerate Them: The Effect of High Quality Listening on Speakers' Attitude Ambivalence. Personality and Social Psychology Bulletin, 43(1).
  • Zenger, J., dan Folkman, J. (2016). What Great Listeners Actually Do. Harvard Business Review, 14 Juli 2016.
  • Rogers, C. R., dan Farson, R. E. (1957). Active Listening.
  • Samaritans: SHUSH listening tips (samaritans.org/shush).
  • World Health Organization, War Trauma Foundation, dan World Vision International (2011). Psychological first aid: Guide for field workers.