Yogyakarta, Kota Keraton yang Hidup: Sejarah, Candi, dan Rencana 3 Hari
Muhammad Fikri Gunawan · · 8 menit baca
Yogyakarta (Jogja) berdiri sebagai kota keraton pada 1756 dan menjadi ibu kota Indonesia pada 1946 sampai 1949. Berikut kisahnya, tempat terbaik, dan cara merencanakan perjalanan Anda.
Yogyakarta, juga ditulis Jogjakarta dan disingkat Jogja, berdiri sebagai kota keraton ketika Sultan Hamengkubuwono I menempati Kraton baru pada 7 Oktober 1756, setelah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 membagi Kesultanan Mataram menjadi dua. Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia dari Januari 1946 sampai 1949, dan sultannya hingga kini memerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wisatawan datang untuk Kraton, Taman Sari, dan Jalan Malioboro yang ramai, serta candi besar Borobudur dan Prambanan di dekatnya. Panduan ini memberi sejarah singkat lebih dulu, lalu tempat, transportasi, dan waktu terbaik untuk merencanakan perjalanan Anda.
Poin penting
- Tanggal berdiri: kota ini merayakan 7 Oktober 1756, saat Kraton menjadi tempat tinggal sultan.
- Dua peran: kota keraton yang hidup dan kota pelajar, rumah bagi Universitas Gadjah Mada.
- Tempat terbaik: Tugu Yogyakarta, Malioboro, Kraton, Taman Sari, Prambanan, dan Borobudur.
- UNESCO: Sumbu Filosofi Yogyakarta ditetapkan sebagai Warisan Dunia pada 2023, dan Borobudur serta Prambanan terdaftar sejak 1991.
- Siapkan 3 hari. Musim kemarau biasanya paling nyaman untuk berkunjung.
Sejarah singkat Yogyakarta
Sebelum 1755: Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram Islam menguasai sebagian besar Jawa Tengah sejak akhir 1500-an, dengan ibu kota awal di Kotagede, kini kawasan yang terkenal dengan kerajinan perak. Perebutan takhta yang panjang dan pengaruh VOC yang makin kuat melemahkan istana.
1755: Perjanjian Giyanti
Pada 13 Februari 1755 Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengkubuwono I dan membangun istana baru, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau menempatinya pada 7 Oktober 1756, tanggal yang dirayakan kota ini sebagai hari jadi.
1756 sampai 1945: kota keraton yang hidup
Sultan membangun taman air Taman Sari sejak 1758. Tugu Yogyakarta, monumen putih di utara keraton, hancur akibat gempa 1867 dan dibangun kembali dalam bentuknya yang sekarang pada 1889. Yogyakarta juga menjadi pusat pendidikan dan pembaruan, dan Muhammadiyah berdiri di sini pada 1912.
1945 sampai 1949: ibu kota Republik
Pada 5 September 1945 Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII menyatakan wilayahnya bagian dari Republik Indonesia. Ketika Jakarta dikuasai Belanda, pemerintah pindah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan Indonesia sempat merebut kembali kota ini, dan Universitas Gadjah Mada didirikan di Yogyakarta pada Desember 1949.
Mengapa Yogyakarta berstatus daerah istimewa?
Karena Sultan Yogyakarta dan Paku Alam VIII mendukung Republik sejak awal dan menopang pemindahan ibu kota pada 1946, Yogyakarta mempertahankan status istimewa. Kini wilayah ini adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan sultan yang bertakhta menjabat sebagai gubernur.
Kenapa berwisata ke Yogyakarta
- Warisan yang hidup: Kraton masih menjadi tempat tinggal sultan dan pusat budaya istana Jawa.
- Candi: Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dan Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia.
- Kuliner: gudeg, bakpia, sate klathak, kopi joss, dan angkringan di pinggir jalan.
- Kerajinan: batik, perak Kotagede, dan wayang kulit.
- Energi mahasiswa: kafe, galeri, dan musik yang terjangkau berkat banyaknya perguruan tinggi.
- Mudah dinikmati: sebagian besar tempat utama berdekatan, dan kotanya ramah bagi pengunjung pertama.
Tempat wisata terbaik di Yogyakarta
Tugu Yogyakarta

Tugu Yogyakarta adalah monumen putih berpuncak emas yang menandai ujung utara sumbu utama kota. Sumbu ini membentang dari Tugu melalui Malioboro hingga Kraton, dan Sumbu Filosofi Yogyakarta beserta Bangunan Bersejarahnya masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 2023. Datanglah saat senja untuk cahaya yang lembut.
Jalan Malioboro

Malioboro adalah jalan paling terkenal di Yogyakarta, membentang ke selatan dari Stasiun Tugu menuju Kraton. Jalan ini dipenuhi toko batik, kios suvenir, dan pedagang makanan, dan paling ramai pada malam hari. Tawarlah dengan sopan, dan cobalah naik becak atau andong untuk perjalanan singkat.
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Yogyakarta masih menjadi tempat tinggal sultan, dan sebagian bagiannya dibuka sebagai museum. Abdi dalem berpakaian tradisional memandu pengunjung, dan musik gamelan serta tari dipentaskan pada hari tertentu. Berpakaianlah sopan dan periksa jam buka, karena keraton tutup pada jam tertentu dan saat upacara.
Taman Sari

Dibangun sejak 1758, Taman Sari adalah taman keraton dengan kolam pemandian, pavilium, dan lorong bawah tanah. Daya tarik utamanya adalah Sumur Gumuling, masjid bawah tanah dengan tangga melingkar. Datanglah pagi hari sebelum panas, dan biarkan pemandu lokal menunjukkan sudut-sudut tersembunyinya.
Candi Prambanan

Prambanan adalah kompleks candi Hindu abad ke-9 sekitar 17 kilometer di timur kota, dengan Candi Siwa sebagai candi utama yang menjulang sekitar 47 meter. Relief di candinya menceritakan kisah Ramayana, dan pertunjukan Sendratari Ramayana di panggung terbuka digelar di dekatnya pada malam tertentu. Kereta commuter jalur Yogyakarta–Solo berhenti di Stasiun Prambanan.
Candi Borobudur

Borobudur adalah monumen Buddha abad ke-9 di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 kilometer di barat laut Yogyakarta. Candi ini memiliki lebih dari 2.000 panel relief dan ratusan arca Buddha. Akses ke teras atas dibatasi dan perlu pemesanan lebih dulu, jadi periksa kanal resmi sebelum berangkat. Pemandangan matahari terbitnya terkenal, tetapi bergantung pada cuaca.
Cara menuju dan berkeliling Yogyakarta
- Lewat udara: Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo adalah bandara utama, dan penerbangan dari Jakarta sekitar satu jam seperempat. Kereta bandara melayani rute ke Stasiun Yogyakarta (Tugu).
- Lewat kereta: kereta jarak jauh dari Jakarta memakan waktu sekitar 6 sampai 8 jam dan tiba di Stasiun Tugu atau Lempuyangan.
- Di dalam kota: bus Trans Jogja, becak, andong, dan aplikasi ojek online seperti Gojek dan Grab. Pusat kota lama dan Malioboro mudah dijelajahi dengan berjalan kaki.
- Menuju candi: kereta commuter jalur Yogyakarta–Solo berhenti di Prambanan, sedangkan Borobudur paling mudah dijangkau dengan paket tur, mobil dengan sopir, atau ojek online.
Waktu terbaik berkunjung ke Yogyakarta
Yogyakarta hangat sepanjang tahun, biasanya sekitar 24 sampai 32 derajat Celsius. Musim kemarau, sekitar Mei sampai September, paling nyaman untuk mengunjungi candi dan berjalan kaki. Musim hujan, sekitar November sampai Maret, membawa hujan deras di sore hari, jadi bawalah jas hujan tipis. Acara besar keraton seperti Sekaten dan Grebeg mengikuti kalender Islam dan menarik banyak pengunjung, dan libur sekolah juga ramai. Periksa informasi gunung api dan akses candi sebelum berangkat.
Itinerari Yogyakarta 3 hari
- Hari 1 pagi: Tugu Yogyakarta dan berjalan menyusuri Malioboro.
- Hari 1 siang: Kraton dan Taman Sari.
- Hari 1 malam: makan malam di angkringan atau warung gudeg, lalu berjalan santai di Malioboro.
- Hari 2 pagi: Borobudur, sebaiknya pagi sebelum panas.
- Hari 2 siang: Prambanan, dan Sendratari Ramayana jika ada jadwalnya.
- Hari 3: Kotagede untuk kerajinan perak, bengkel batik atau museum, dan gudeg terakhir untuk makan siang.
Berangkat dari ibu kota? Mulailah dengan sejarah Jakarta, atau lanjutkan ke Jawa Barat lewat sejarah Bandung.
Tips praktis
- Mulailah lebih pagi. Pagi hari lebih sejuk dan candi tidak terlalu ramai.
- Berpakaianlah sopan di Kraton dan tempat ibadah lainnya.
- Bawa air minum, tabir surya, dan topi.
- Pesan akses Borobudur lebih dulu dan periksa jam buka di halaman resmi.
- Gunakan aplikasi online atau sepakati tarif sebelum naik becak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan Yogyakarta didirikan?
Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 melahirkan Kesultanan Yogyakarta. Kraton menjadi tempat tinggal sultan pada 7 Oktober 1756, yang dirayakan kota ini sebagai hari jadi.
Apakah Yogyakarta sama dengan Jogja?
Ya. Jogja, Jogjakarta, dan Yogyakarta merujuk pada kota yang sama. Jogja adalah bentuk singkat yang lazim dipakai sehari-hari.
Berapa hari yang dibutuhkan di Yogyakarta?
Tiga hari cukup untuk pusat kota, Borobudur, dan Prambanan. Tambahkan satu hari untuk Kotagede dan menjelajah lebih santai.
Apakah Borobudur berada di dalam kota Yogyakarta?
Tidak. Borobudur berada di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 kilometer di barat laut Yogyakarta, dan kebanyakan pengunjung ke sana sebagai wisata sehari dari kota.



