Lewati ke konten utama

Cari tulisan

Tidak ada tulisan yang cocok. Coba kata lain.

Perjalanan

Sejarah Jakarta dan Alasan Anda Perlu Berkunjung

Muhammad Fikri Gunawan · · 7 menit baca
Sejarah Jakarta dan Alasan Anda Perlu Berkunjung
Foto: HugoChaska, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons

Jakarta berdiri sebagai Jayakarta pada 22 Juni 1527, menjadi Batavia pada 1619, dan bernama Jakarta sejak 1942. Berikut kisahnya, tempat bersejarah terbaik, dan cara merencanakan perjalanan Anda.

Jakarta berawal dari pelabuhan lada bernama Sunda Kelapa, menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527, tumbuh menjadi kota dagang Belanda bernama Batavia sejak 1619, lalu berganti nama menjadi Jakarta pada masa pendudukan Jepang tahun 1942. Nama itu bertahan hingga kini sebagai ibu kota Indonesia merdeka.

Kini Jakarta adalah kota metropolitan dengan gedung kaca dan lalu lintas padat, tetapi pelabuhan lama, lapangan kolonial, museum, dan monumennya masih ada, dan sebagian besar bisa dikunjungi dalam dua atau tiga hari. Panduan ini memberi sejarah singkat lebih dulu, lalu tempat, transportasi, dan waktu terbaik untuk merencanakan perjalanan Anda.

Poin penting

  • Tanggal berdiri: Jakarta merayakan hari jadinya setiap 22 Juni, mengacu pada tahun 1527.
  • Empat nama: Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, lalu Jakarta.
  • Tempat sejarah terbaik: Kota Tua, Pelabuhan Sunda Kelapa, Monas, Masjid Istiqlal, dan Museum Nasional.
  • Cara termudah berkeliling: MRT, bus TransJakarta, dan KRL Commuter Line.
  • Siapkan 2 sampai 3 hari. Musim kemarau biasanya paling nyaman untuk berjalan kaki.

Sejarah singkat Jakarta

Sunda Kelapa: pelabuhan lada (sebelum 1527)

Jauh sebelum bernama Jakarta, pelabuhan di muara Sungai Ciliwung melayani Kerajaan Sunda yang beragama Hindu dan mengirim rempah-rempah, terutama lada hitam. Kontak dengan Portugis dimulai pada 1513, ketika Tomé Pires mengunjungi pelabuhan ini.

Jayakarta: 22 Juni 1527

Pada 1527, Fatahillah, panglima yang bertindak atas nama Kesultanan Demak, mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 22 Juni dan mengganti nama pelabuhan itu menjadi Jayakarta. Tanggal tersebut kini dirayakan sebagai hari jadi kota. Jayakarta kemudian berada di bawah Kesultanan Banten.

Batavia: kota Belanda (1619 sampai 1942)

Pada 1619, Jan Pieterszoon Coen dari VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda) merebut pelabuhan dari Banten setelah menghancurkan kota yang ada. Kota baru itu resmi bernama Batavia pada 18 Januari 1621 dan menjadi pusat Hindia Belanda. Sultan Agung dari Mataram mengepungnya pada 1628 dan 1629 tetapi tidak berhasil merebutnya. Gudang dan lapangan lama di Kota Tua berasal dari masa ini.

Jakarta: pendudukan, kemerdekaan, dan ibu kota modern

Pasukan Jepang menguasai Batavia pada Maret 1942 dan mengganti namanya menjadi Jakarta. Belanda sempat memakai nama Batavia lagi setelah perang, tetapi setelah kemerdekaan diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan diakui pada 1949, Jakarta menjadi nama ibu kota Indonesia untuk seterusnya.

Landmark modern menyusul: pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961 dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975, Masjid Istiqlal diresmikan pada 22 Februari 1978, dan jalur MRT Jakarta pertama beroperasi pada 24 Maret 2019.

Apakah Jakarta masih ibu kota Indonesia?

Ya, untuk saat ini. Indonesia memiliki undang-undang untuk memindahkan ibu kota ke Nusantara di Kalimantan Timur, tetapi putusan Mahkamah Konstitusi pada 2026 menyatakan Jakarta tetap berstatus ibu kota hingga ada keputusan presiden yang memindahkannya secara resmi. Bagi wisatawan tidak ada perubahan: Jakarta tetap menjadi pintu gerbang utama dan kota terbesar di Indonesia.

Kenapa berwisata ke Jakarta

  • Sejarah yang hidup: Anda bisa menelusuri kisah dari pelabuhan, kota kolonial, hingga ibu kota dalam satu kota.
  • Kuliner: hidangan Betawi seperti kerak telor dan soto Betawi, ditambah masakan dari seluruh penjuru Indonesia.
  • Museum dan budaya: puluhan museum, dari Museum Sejarah Jakarta hingga Museum Nasional.
  • Mudah dijadikan basis: Jakarta adalah gerbang internasional utama Indonesia, dengan akses mudah ke Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Kepulauan Seribu.
  • Berdampingan: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta berhadapan di seberang jalan, gambaran keberagaman kota ini.

Tempat terbaik untuk melihat sejarah Jakarta

Kota Tua dan Lapangan Fatahillah

Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta) bergaya kolonial berwarna putih di Lapangan Fatahillah, Kota Tua, dengan pesepeda di depannya
Lapangan Fatahillah di Kota Tua, Jakarta. Foto: Aisha Tanduk, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons

Kota Tua adalah Batavia lama. Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta) berada di bekas balai kota Belanda dan ditetapkan sebagai museum pada 30 Maret 1974. Lapangan di depannya dikelilingi kafe dan sepeda ontel warna-warni yang bisa disewa. Naik KRL Commuter Line ke Stasiun Jakarta Kota lalu berjalan kaki.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Kapal pinisi kayu tradisional berlambung merah, kuning, dan putih bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta
Kapal pinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Foto: Herusutimbul, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons

Di sinilah semuanya bermula. Kapal pinisi kayu tradisional masih bersandar di sini, dan Museum Bahari di dekatnya menempati bekas gudang VOC. Datanglah pagi atau sore hari, saat cahaya lebih lembut dan udara tidak terlalu panas.

Monas (Monumen Nasional)

Pemandangan dari atas Monumen Nasional (Monas) di taman Medan Merdeka dengan latar cakrawala Jakarta
Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat. Foto: Ramayoni, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons

Lidah api berlapis emas Monas berdiri di taman Medan Merdeka. Di bagian dasarnya ada museum, dan dengan biaya tambahan yang kecil Anda bisa naik ke pelataran puncak untuk melihat pemandangan kota.

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta

Pemandangan dari atas Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang menyala saat senja di Jakarta Pusat, dengan Monas di kejauhan
Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Foto: Arifmuttaqin, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons

Istiqlal adalah salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara, dan Gereja Katedral Jakarta yang bergaya neo-Gotik berdiri tepat di seberangnya. Berpakaianlah sopan dan ikuti aturan yang terpasang di pintu masuk.

Museum Nasional Indonesia

Bangunan neoklasik putih Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan tangga batu melengkung
Museum Nasional Indonesia, Museum Gajah. Foto: Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 3.0, melalui Wikimedia Commons

Dikenal juga sebagai Museum Gajah karena patung gajah perunggu di depannya, museum ini menyimpan koleksi arkeologi dan etnografi dari seluruh nusantara. Periksa hari buka sebelum berkunjung karena jadwal museum bisa berubah.

Cara berkeliling Jakarta

  • MRT Jakarta: jalur utara-selatan dari Lebak Bulus ke Bundaran HI (13 stasiun) dibuka pada 24 Maret 2019 dan bebas dari kemacetan jalan.
  • TransJakarta: bus rapid transit dengan jalur khusus dan rute ke Kota Tua, Monas, serta sebagian besar kawasan pusat.
  • KRL Commuter Line: kereta termudah menuju Stasiun Jakarta Kota untuk ke Kota Tua.
  • Aplikasi ojek dan taksi online: Gojek dan Grab banyak dipakai untuk perjalanan jarak dekat. Banyak sistem juga menerima kartu uang elektronik atau pembayaran QR.

Waktu terbaik berkunjung ke Jakarta

Jakarta panas dan lembap sepanjang tahun. Musim kemarau, sekitar Mei sampai September, biasanya paling nyaman untuk berjalan kaki. Musim hujan, sekitar November sampai Maret, membawa hujan deras di sore hari dan sesekali banjir, jadi bawalah jas hujan tipis. Pada hari Minggu pagi, Car Free Day menutup sebagian Jalan Sudirman dan Thamrin untuk kendaraan sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Hindari jam sibuk hari kerja jika bisa.

Itinerari sejarah Jakarta 2 hari

  1. Hari 1 pagi: Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari.
  2. Hari 1 siang: Lapangan Fatahillah dan Museum Sejarah Jakarta, lalu minum kopi di Kota Tua.
  3. Hari 1 malam: naik MRT atau ojek online untuk makan malam di Jakarta Selatan. Cari tempatnya? Baca 15 rekomendasi kafe di Jakarta Selatan.
  4. Hari 2 pagi: Monas dan taman Medan Merdeka, lalu Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
  5. Hari 2 siang: Museum Nasional Indonesia.
  6. Hari 2 malam: jalan santai atau makan malam di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman.

Tips praktis

  • Mulailah lebih pagi. Pagi hari lebih sejuk dan tidak terlalu ramai.
  • Bawa air minum, tabir surya, dan payung kecil.
  • Berpakaianlah sopan saat masuk masjid dan tempat ibadah lainnya.
  • Gunakan taksi resmi atau aplikasi online dan pastikan rutenya.
  • Periksa jam buka dan aturan tiket di halaman resmi masing-masing tempat sebelum berangkat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan Jakarta didirikan?

Tanggal berdiri resmi Jakarta adalah 22 Juni 1527, ketika Fatahillah merebut pelabuhan Sunda Kelapa dan menamainya Jayakarta. Kota ini merayakan hari jadinya pada tanggal itu setiap tahun.

Kenapa Jakarta dulu bernama Batavia?

VOC merebut pelabuhan ini pada 1619 dan secara resmi menamai kota barunya Batavia pada 18 Januari 1621. Nama itu dipakai hingga masa pendudukan Jepang tahun 1942.

Apakah Jakarta masih ibu kota Indonesia?

Ya. Ada rencana memindahkan ibu kota ke Nusantara di Kalimantan Timur, tetapi putusan pengadilan pada 2026 menyatakan Jakarta tetap menjadi ibu kota sampai ada keputusan presiden yang mengubahnya secara resmi.

Berapa hari yang dibutuhkan di Jakarta?

Dua sampai tiga hari cukup untuk melihat situs sejarah utama: Kota Tua, Sunda Kelapa, Monas, Masjid Istiqlal, dan Museum Nasional.

Apakah Jakarta layak dikunjungi?

Ya, jika Anda menyukai sejarah, kuliner, dan kehidupan kota. Jakarta memadukan situs era kolonial, museum besar, kuliner Betawi, dan gedung pencakar langit modern, serta mudah dijadikan basis perjalanan ke wilayah lain di Jawa dan sekitarnya.

Kapan waktu terbaik mengunjungi Jakarta?

Musim kemarau sekitar Mei sampai September biasanya paling nyaman. Jadwalkan tempat tertutup seperti museum pada siang yang terik atau saat hujan.

Bagaimana cara ke Kota Tua?

Naik KRL Commuter Line ke Stasiun Jakarta Kota, atau bus TransJakarta ke halte Kota. Lapangan Fatahillah hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki.

Kesimpulan

Jakarta lebih dari sekadar macet dan mal. Kota ini punya hampir 500 tahun sejarah, dan sebagian besarnya bisa Anda telusuri dalam satu akhir pekan. Tentukan tanggalnya, naik MRT ke Kota Tua, dan lihat sendiri tempat ibu kota Indonesia bermula.

Sumber

  • Wikipedia: History of Jakarta.
  • Wikipedia: Timeline of Jakarta.
  • The Jakarta Post: Indonesia welcome first MRT Jakarta (23 Maret 2019).
  • CNN Indonesia: Jokowi Resmikan MRT di Bundaran HI (24 Maret 2019).
  • Mahkamah Konstitusi RI (mkri.id): Court Declares Petition to Review DKJ Law Legally Unfounded (17 Juni 2026).
  • Indonesia.travel: Museum Fatahillah.
  • Perjalanan

    15 Rekomendasi Cafe di Jakarta Selatan

    Bagi kebanyakan orang, hangout merupakan salah satu cara untuk melepas rasa lelah dan stress disaat pulang bekerja maupun weekend. Sebagai wilayah yang banyak memiliki tempat kuliner, Jakarta Selatan juga banyak memiliki beragam tempat hangout untuk kumpul-kumpul dan seru-seruan bareng teman atau menikmati me time di tengah hiruk-pikuk kota yang terdengar melelahkan.

    Oleh Muhammad Fikri Gunawan pada · 8 menit baca