Chrisye: Sang Legenda yang Membentuk Musik Pop Indonesia, dari Lilin-Lilin Kecil hingga Kala Cinta Menggoda
Muhammad Fikri Gunawan · · 9 menit baca
Chrisye (Christian Rahadi, 1949–2007) adalah salah satu penyanyi pop terbesar Indonesia. Berikut kisahnya dari bassis Gipsy hingga suara di balik Lilin-Lilin Kecil dan Pergilah Kasih, lengkap dengan penghargaan, wafatnya, dan warisannya.
Jawaban singkat: siapa Chrisye?
Chrisye (lahir sebagai Christian Rahadi, 16 September 1949 – 30 Maret 2007) adalah penyanyi dan bassis Indonesia yang dianggap luas sebagai salah satu suara terbaik dalam musik pop Indonesia. Ia melejit pada 1977 lewat "Lilin-Lilin Kecil" dan soundtrack film Badai Pasti Berlalu, album yang kemudian dinobatkan Rolling Stone Indonesia sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa. Pada 2011 majalah itu menempatkannya sebagai musisi Indonesia terhebat ketiga sepanjang masa.
Panduan ini membahas kehidupan dan kariernya, lagu dan album paling terkenalnya, penghargaannya, penyakit dan wafatnya, serta mengapa film, Google Doodle, dan prangko mengenangnya sejak itu.
Poin penting
- Lahir sebagai Christian Rahadi di Jakarta pada 16 September 1949. Ia wafat pada 30 Maret 2007 di rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan, dalam usia 57 tahun karena kanker paru-paru.
- Ia memulai sebagai bassis band Gipsy. Album Guruh Gipsy (1976) berada di peringkat kedua daftar album Indonesia terbaik versi Rolling Stone Indonesia.
- Terobosannya datang pada 1977 lewat "Lilin-Lilin Kecil" dan soundtrack Badai Pasti Berlalu.
- Hit andalannya terbentang tiga dekade: "Aku Cinta Dia" (1985), "Pergilah Kasih" (1989), dan "Kala Cinta Menggoda" (1997).
- Penghargaannya meliputi BASF Awards, sembilan AMI untuk Kala Cinta Menggoda pada 1998, dan SCTV Lifetime Achievement Award secara anumerta pada 2007.
- Warisannya meliputi film Chrisye (2017), Google Doodle pada 16 September 2019, dan prangko 2020.
Tonggak hidup Chrisye sekilas

Masa kecil: dari Menteng ke gitar bass (1949–1969)
Chrisye lahir di Jakarta dari Laurens Rahadi, pengusaha Tionghoa-Betawi, dan Hanna Rahadi, ibu rumah tangga Tionghoa-Sunda dari Bogor. Ia anak kedua dari tiga bersaudara laki-laki, dengan kakak adik bernama Joris dan Vicky. Keluarganya pindah ke Jalan Pegangsaan, Menteng, pada 1954, dan ia tumbuh sambil ikut bernyanyi mengikuti piringan hitam Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin.
Setelah demam Beatles sampai ke Indonesia, ayahnya membelikannya gitar, tetapi ia memilih bass. Ia tampil di acara sekolah bersama kakaknya, Joris, dengan Chrisye sebagai vokalis.
Gipsy, New York, dan Guruh Gipsy (1969–1976)

Sekitar 1969 Chrisye bergabung dengan band Sabda Nada milik kakak beradik Nasution sebagai bassis pengganti, dan grup itu kemudian berganti nama menjadi Gipsy. Pada pertengahan 1973 ia berangkat ke New York bersama Gipsy dan tampil di sana hampir setahun. Ia kembali ke Indonesia pada akhir 1973, lalu kembali ke New York pada 1974 bersama band lain, The Pro's.
Pada pertengahan 1975 kakaknya, Vicky, meninggal karena infeksi lambung, dan Chrisye jatuh dalam depresi. Ia kembali bergabung dengan Gipsy untuk proyek independen bersama Guruh Soekarnoputra. Hasilnya, Guruh Gipsy, direkam pada 1975 dan dirilis pada 1976 hanya sebanyak 5.000 kopi. Rolling Stone Indonesia kemudian menempatkannya di peringkat kedua album Indonesia terbaik sepanjang masa.
Terobosan: Lilin-Lilin Kecil dan Badai Pasti Berlalu (1977–1978)

"Lilin-Lilin Kecil" ditulis James F. Sundah, yang saat itu berusia 21 tahun, untuk lomba cipta lagu remaja Radio Prambors 1977, dan diaransemen Jockie Soerjoprajogo. Lagu ini menjadi lagu andalan Chrisye dan sudah dinyanyikan ulang oleh lebih dari lima puluh artis. Rolling Stone Indonesia menempatkannya di peringkat 13 dalam daftar lagu Indonesia terbaik tahun 2009.
Pada tahun yang sama ia merekam soundtrack film Badai Pasti Berlalu karya Teguh Karya, bekerja bersama Eros Djarot. Keberhasilan soundtrack itu membuat Amin Widjaja dari Musica Studios merekrutnya, dan album solo pertamanya di label itu, Sabda Alam, dirilis pada Agustus 1978.
Masa keemasan: dekade 1980-an
Sepanjang 1980-an Chrisye merilis album demi album bersama Musica Studios: Puspa Indah (1980) dengan "Galih dan Ratna" dan "Gita Cinta", Resesi (1983), Metropolitan (1984), Aku Cinta Dia dan Hip Hip Hura (keduanya 1985), Nona Lisa (1986), Jumpa Pertama (1988), dan Pergilah Kasih (1989). Ia bekerja erat dengan Guruh Soekarnoputra, Eros Djarot, dan Jockie Soerjoprajogo. Sabda Alam dan Aku Cinta Dia meraih emas, dan Nona meraih platinum.
Ia dinobatkan sebagai penyanyi favorit ABRI pada 1979 dan meraih BASF Award pertamanya pada 1984 lewat album Sendiri, lalu BASF Awards lagi pada 1988 dan 1989. Pada 1982 ia memeluk Islam dan memakai nama Chrismansyah Rahadi. Ia menikah dengan penyanyi Damayanti Noor pada 12 Desember 1982, dan mereka memiliki empat anak.
Dekade 1990-an: Sendiri Lagi, AkustiChrisye, dan Kala Cinta Menggoda

Sendiri Lagi hadir pada 1993, dan pada awal 1990-an ia menerima penghargaan prestasi seumur hidup dari BASF. Ia kemudian menjalin kemitraan terkenal dengan penata musik Erwin Gutawa lewat AkustiChrisye (1996) dan Kala Cinta Menggoda (1997). Ia menang Penyanyi Pop Pria Terbaik di AMI Awards 1997, dan pada 1998 Kala Cinta Menggoda meraih sembilan AMI, termasuk Album Terbaik. Video lagu utamanya juga menang MTV Video Music Award untuk Asia Tenggara pada 1998.
Album itu juga memuat lagu religius "Ketika Tangan dan Kaki Berkata", dengan lirik penyair Taufiq Ismail yang terinspirasi ayat dari Surah Yasin.
Dekade 2000-an: generasi baru, penyakit, dan perpisahan
Chrisye merekam ulang Badai Pasti Berlalu pada 1999, merilis kumpulan lagu daur ulang Dekade pada 2002, dan album Senyawa pada 2004 yang memasangkannya dengan musisi yang lebih muda, termasuk Ungu, Peterpan, dan Project Pop.
Pada Juli 2005 ia dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah karena sesak napas, lalu dipindahkan ke Mount Elizabeth Hospital di Singapura, tempat ia didiagnosis kanker paru-paru. Ia memulai kemoterapi pertama dari enam putaran pada 2 Agustus 2005. Pada November 2005, sehari setelah kembali dari perawatan di Singapura, ia menerima penghargaan prestasi seumur hidup di AMI Awards, menurut ANTARA.
Chrisye wafat pada 30 Maret 2007 di rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan, dalam usia 57 tahun. Ia dimakamkan di TPU Jeruk Purut. Putrinya, Risty, menerima SCTV Lifetime Achievement Award pertama atas namanya pada tahun yang sama.
Lagu-lagu Chrisye yang paling terkenal
- Lilin-Lilin Kecil (1977), lagu andalannya.
- Badai Pasti Berlalu (soundtrack 1977, direkam ulang pada 1999).
- Galih dan Ratna (1980).
- Aku Cinta Dia (1985).
- Hip Hip Hura (1985).
- Pergilah Kasih (1989).
- Sendiri Lagi (1993).
- Kala Cinta Menggoda (1997).
- Ketika Tangan dan Kaki Berkata (1997).
- Merpati Putih dan Anak Jalanan, keduanya masuk daftar lagu Indonesia terbaik versi Rolling Stone Indonesia.
Rekor, penghargaan, dan peringkat
- Rolling Stone Indonesia (2007): Badai Pasti Berlalu peringkat 1 dan Guruh Gipsy peringkat 2 dari 150 album Indonesia terbaik.
- Rolling Stone Indonesia (2009): "Lilin-Lilin Kecil" peringkat 13 dari lagu Indonesia terbaik.
- Rolling Stone Indonesia (2011): dinobatkan musisi Indonesia terhebat ketiga sepanjang masa.
- BASF Awards sejak 1984, termasuk penghargaan prestasi seumur hidup pada awal 1990-an.
- AMI Awards: Penyanyi Pop Pria Terbaik pada 1997, dan sembilan penghargaan untuk Kala Cinta Menggoda pada 1998.
- Sertifikasi: Sabda Alam dan Aku Cinta Dia meraih emas, dan Nona meraih platinum.
Warisan: film, buku, dan penghormatan

Film biografi Chrisye, disutradarai Rizal Mantovani dan dibintangi Vino G. Bastian, dirilis pada 7 Desember 2017. Memoar Chrisye: Sebuah Memoar Musikal karya Alberthiene Endah terbit pada 2007. Rilisan anumerta mencakup "Lirih" (2008), "Rindu Ini" (2020, direkam pada 1992), dan "Yang Kusayang" (2022). Pada 5 April 2012 digelar konser hologram bertajuk Kidung Abadi.

Google memperingati ulang tahun ke-70 Chrisye dengan Doodle pada 16 September 2019, dan Indonesia mencetak potretnya di prangko pada 2020.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Chrisye?
Chrisye adalah salah satu penyanyi pop terbesar Indonesia, dikenal lewat lagu seperti "Lilin-Lilin Kecil", "Pergilah Kasih", dan "Kala Cinta Menggoda". Ia memulai sebagai bassis sebelum menjadi bintang solo pada akhir 1970-an.
Siapa nama asli Chrisye?
Ia lahir dengan nama Christian Rahadi. Setelah memeluk Islam pada 1982 ia dikenal sebagai Chrismansyah Rahadi, dan kemudian Haji Chrismansyah Rahadi.
Kapan dan karena apa Chrisye meninggal?
Chrisye wafat pada 30 Maret 2007 di rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan, dalam usia 57 tahun, setelah lama berjuang melawan kanker paru-paru. Ia dimakamkan di TPU Jeruk Purut.
Apa saja lagu paling terkenal Chrisye?
Lagu-lagu terkenalnya antara lain "Lilin-Lilin Kecil", "Aku Cinta Dia", "Pergilah Kasih", "Kala Cinta Menggoda", dan "Badai Pasti Berlalu".
Apa album Chrisye yang paling terkenal?
Badai Pasti Berlalu, album soundtrack 1977, adalah yang paling diakui. Rolling Stone Indonesia menempatkannya sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa pada 2007.
Siapa penulis lagu Lilin-Lilin Kecil?
James F. Sundah menulis "Lilin-Lilin Kecil" untuk lomba cipta lagu 1977 yang digelar Radio Prambors. Lagu itu diaransemen Jockie Soerjoprajogo.
Apakah ada film tentang Chrisye?
Ada. Film Chrisye, disutradarai Rizal Mantovani dan dibintangi Vino G. Bastian, dirilis pada 7 Desember 2017.
Penutup
Lagu-lagu Chrisye masih terdengar hidup lebih dari lima belas tahun setelah kepergiannya. Dari bassis muda di band rock progresif hingga suara di balik "Lilin-Lilin Kecil" dan "Kala Cinta Menggoda", ia membentuk wajah musik pop Indonesia, dan generasi baru terus menemukan karyanya.


